Home / Berita Terkini

Rabu, 1 November 2023 - 19:57 WIB

Mengatasi Tingkat Pengangguran Pemuda RI, Kemenko PMK Menawarkan Solusi Melalui EHUb

Tingkat pengangguran terbuka pemuda Indonesia didapat dari persentase jumlah pemuda penganggur terbuka usia 16-30 terhadap jumlah angkatan kerja pemuda usia 16-30 tahun. (Foto: Istimewa)

Tingkat pengangguran terbuka pemuda Indonesia didapat dari persentase jumlah pemuda penganggur terbuka usia 16-30 terhadap jumlah angkatan kerja pemuda usia 16-30 tahun. (Foto: Istimewa)

Info Warga – Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022 menunjukkan, tingkat pengangguran terbuka pemuda (TPT) Indonesia mencapai 13,93 persen atau hampir 14 persen. Pemuda merujuk pada penduduk usia 16-30 tahun, yang mewakili 24 persen dari total penduduk Indonesia atau 64,82 juta dari total 270 juta jiwa.

Tingkat pengangguran terbuka pemuda Indonesia didapat dari persentase jumlah pemuda penganggur terbuka usia 16-30 terhadap jumlah angkatan kerja pemuda usia 16-30 tahun. Kendati turun dari 14,4 persen di 2021, tingkat pengangguran terbuka pemuda RI ini terpaut jauh dari tingkat pengangguran terbuka nasional yang berada di angka 5,45 persen.

Lebih lanjut, 1 dari 4 pemuda Indonesia tidak sedang mengikuti pendidikan, kursus, dan dalam pekerjaan (Not in Education, Employment, or Training/NEET) alias menganggur saat tidak belajar.

“TPT pemuda jauh di atas TPT nasional yang sekitar 6 persen, yang mana 2 kali lipatnya. Masih menjadi PR untuk fokus pada pemuda,” kata Woro Srihastuti Sulistyaningrum di Jakarta, Selasa (31/10/2023).

Pemuda Punya Gagasan, tetapi Butuh Pelatihan sampai Masuk Pasar

Woro mengatakan, untuk membangun SDM berkualitas sebagai modal pembangunan Indonesia Emas 2024 yang berdaulat, maju, dan berkelanjutan, maka butuh sinergi mengatasi PR besar di bidang pendidikan, kesehatan, dan memastikan pemuda Indonesia memiliki penghidupan.

“Setidaknya di pendidikan dan kesehatan, tetapi itu tidak cukup. Butuh bicara soal produktivitas sehingga masuk ke kegiatan-kegiatan ekonomi,” ucapnya.

Ia menjelaskan, untuk Indonesia Emas 2045, RI butuh pembangunan kewirausahaan inklusif. Dengan demikian, pemuda dari kelompok miskin, penyandang disabilitas, baik dari pedesaan maupun perkotaan, dapat bergerak bersama dalam menggeluti bisnis baru, mengakses sumber daya, dan memiliki peluang yang sama untuk bisnis yang sudah ada.

Woro mengatakan, pemuda Indonesia memiliki semangat, energi, dan gagasan untuk menciptakan kewirausahaan inklusif. Namun, data juga menunjukkan bahwa persentase pemuda wirausaha kerah putih di Indonesia hanya sebesar 0,48 persen, meningkat hanya 0,07 persen dari 2021. Sedangkan angka ideal pemuda wirausaha kerah putih yakni 2 persen.

Pemuda wirausaha kerah putih adalah penduduk usia 16-30 tahun yang bekerja dengan status berusaha sendiri, dan dibantu buruh tetap, dan punya jenis jabatan white collar seperti tenaga profesional atau teknisi, kepemimpinan atau ketatalaksanaan, dan pejabat pelaksana atau tenaga tata usaha, dikutip dari penelitian Suryadi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagakerjaan, Kemenaker dalam Jurnal Ketenagakerjaan.

Entrepreneur Hub (EHub)

Woro mengatakan, sejumlah regulasi dan kebijakan telah disiapkan pemerintah pusat sebagai pedoman kolaborasi dan sinergi mengatasi tantangan wirausaha inklusif bagi pemuda. Di samping itu, ada Entrepreneur Hub (EHub) sebagai ekosistem belajar wirausaha dari awal hingga memasuki pasar.

“Kami mendorong inovasi dan teknologi, fasilitasi inovator untuk pecahkan masalah ekonomi dan sosial RI. Entrepreneur Hub atau EHub tersedia sebagai sistem ekosistem kewirausahaan terpadu, peluang kolaborasi, dan akses terpercaya bertumbuh dan berkembang,” kata Woro.

“Disiapkan EHub untuk teman-teman belajar jadi wirausaha dan berkoneksi ke berbagai pihak untuk mengembangkan wirausahanya, mengakses kesempatan setara berkembang dan berkontribusi. Ekosistem kewirausahaan harus menjamin keadilan dan kesetaraan, meliputi aspek pemberdayaan komunitas pemuda, pelatihan, dan pendampingan,” imbuhnya.

Ia menambahkan, ekosistem ini juga sedianya mendukung pembangunan kerja sama di tingkat regional dan global untuk perluasan akses pasar dan peluang di ASEAN, Timur Tengah, sampai Eropa.

“Menyiapkan dan mencari pasar untuk usaha yang dikembangkan pemuda kita penting. Sebab setelah pengembangan, jangan sampai terhalang pemasarannya. Jadi nggak hanya pengembangan, tetapi juga sampaikan ke pasar,” ucapnya. (Dari berbagai sumber/ Nia Dwi Lestari).

Share :

Berita terkait

Berita Terkini

Calon Mahasiswa Baru, Jangan Lupakan 5 Hal Ini Saat Memilih PTN

Berita Terkini

Rekomendasi 5 HP Xiaomi Rp 1 Jutaan dengan RAM Besar dan Baterai Jumbo

Berita Terkini

Polres Jakbar Siaga Atur Lalin Saat Jam Sibuk Pagi, Beri Kelancaran Masyarakat yang Beraktivitas

Berita Terkini

Seleksi Dikbangpimti 2024 Dimajukan, AS SDM Polri Jelaskan Alasannya

Berita Terkini

4 Manfaat Tak Terduga dari Kebiasaan Jemur Bantal dan Guling

Berita Terkini

Sempat Pingsan, Tersangka Judi Online Syok Dengar Ancaman Pidana yang Dihadapi

Berita Terkini

Peresmian Gedung Baru RSUD Kalideres-RSUD Kembangan Jakbar oleh Heru Budi

Berita Terkini

Waspadai Bahaya Kurang Minum Air Putih, Dehidrasi Berpotensi Picu Penyakit Kronis